Menelusuri Jejak-Jejak Nenek Moyang Orang Sunda

Lokasi bekas Keraton/Kerjajaan Galuh di Ciamis. (Foto: emha ubaidillah)

(Catata Terjemahan Drs Yosep Iskandar)

Bagian XIV

Pustaka Ratuning Balasariwu

Pada awal tahun 723 M, Sang Sanjaya bersama istri (Teja Kancana Ayu Purnawangi) menduduki tahta Raja Sunda II. Dengan demikian, jalan menuju eksvansi ke Galuh semakin lebar.

Ia bisa menentukan langsung untuk menggempur kerajaan Galuh. Sejalan dengan itu, Sang Anggada, cucu dari Praburesi Tarusbawa (anak dari Putri Mayangsari) diangkat sebagai patih Kerajaan Sunda menggantikan ayahnya Sang Wangsanagara.

Untuk tugas besar itu, tetap kembali ke rencana awal bahwa seluruh rakyat digiringnya kepada anggapan bahwa Kerajaan Sunda tengah berduka dan tentunya disepakati oleh Patih Anggada.

Baca Juga  Menelusuri Jejak-Jejak Nenek Moyang Orang Sunda

Pasukan resmi kerajaan Sunda pimpinan Patih Anggada telah disiagakan, bergerak menuju Gunung Sawal dan bergabung dengan pasukan Bumi Mataram-Sambara.

Untuk kemudian mengadakan konsolidasi.

Jarak Karang Kamulyan – Gunung Sawal kira-kira 17 KM dan pasukan khusus Bumi Mataram – Sambara ditugaskan untuk melancarkan serangan sedangkan Patih Anggada dan pasukannya menghantam Karang Kamulyan serta menutup akses kaburnya para prajurit Galuh.

Selintas sangat musykil rasanya, bagaimana bisa Sang Sanjaya melatih, mengatur serta menggerakkan balatentaranya dalam jumlah besar dalam waktu sebegitu lama dan jarak yang sedemukian jauh.

Baca Juga  Sidang Isbat Awal Ramadan 1443 H Digelar 1 April