Hukrim  

Ini Profile Empat Tersangka Dugaan Korupsi Persetujuan Ekspor Minyak Sawit Mentah

Kejagung tetapkan empat tersangka dugaan kasus korupsi izin ekspor minyak sawit mentah. Ist.

POTENSINETWORK.COM — Kejaksaan Agung baru-baru ini telah menetapkan empat tersangka kasus korupsi persetujuan ekspor crude palm oil  (CPO) atau minyak sawit mentah yang menjadi bahan baku minyak goreng. Perbuatan tersangka diduga menyebabkan kelangkaan serta kenaikan harga minyak goreng sehingga merugikan negara dan masyarakat.

Empat tersangka tersebut adalah Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Indrasari Wisnu Wardhana, Senior Manager Corporate Affair Permata Hijau Group, Stanley MA, Komisaris PT Wilmar Nabati Indonesia, Parulian Tumanggor, serta General Manager PT Musim Mas, Togar Sitanggang.

Menurut Direktur Penyidik pada Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Supardi, keempat tersangka memenuhi unsur melakukan perbuatan melawan hukum, sehingga menyebabkan kerugian negara.

“Pasal 2 atau Pasal 3 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi. Itu pasal utamanya,” ujar Supardi dalam keterangan tertulis yang dikutip, Rabu (20/4).

Berikut profil empat tersangka kasus korupsi persetujuan ekspor crude palm oil  (CPO) yang dihimpun Katadata, dilansir dari laman katadata:

Baca Juga  Diberi Saran Tak Digubris, Dua Sejoli Harus Dibuang ke Sungai

Indrasari Wisnu Wardhana

Indrasari menjabat sebagai Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag sejak 20 Desember 2021. Ini merupakan kedua kalinya dia memegang jabatan tersebut.

Pada 2019, Indrasari juga pernah menjabat sebagai Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag menggantikan Oke Nurwan. Saat itu, dia juga pernah terseret kasus suap impor bawang putih oleh I Nyoman Dhamantra, mantan anggota DPR RI dari Fraksi PDIP. Ia juga pernah diperiksa KPK sebagai saksi kasus suap impor ikan di Perum Perindo oleh eks Direktur Utama Perindo, Risyanto Suanda.

Setelah itu, Indrasari menjabat sebagai Kepala Badan Pengawasan Perdagangan Berjangka dan Komoditi (Bappebti). Dia juga pernah menjabat sebagai Komisaris PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) atau PTPN III.

Parulian Tumanggor

Tumanggor kini menjabat sebagai komisaris Wilmar Nabati Indonesia. Dia memulai kariernya di pemerintahan dan pernah menjadi tenaga pengajar di Departemen Keuangan. Suami dari Jhonny Sitohang Adinagoro itu juga pernah menjadi pejabat eselon II Kementerian BUMN.

Baca Juga  Tersebar Chat WA Putri Candrawathi untuk Brigadir J, Begini Isinya...

Tumanggor kemudian mencalonkan diri sebagai kepala daerah dan terpilih menjadi Bupati Dairi selama dua periode yaitu 19 April 1999 hingga 19 April 2009. Dairi merupakan kabupaten di Sumatera Utara yang memiliki tambang mineral timah hitam, seng, dan lainnya.

Selepas menjadi Bupati, Tumanggor pernah menjabat sebagai Wakil Direktur Utama PT Multimas Nabati Asahan. Dia kemudian ditunjuk sebagai komisaris Wilmar Nabati Indonesia.

Tumanggor kini mengemban tugas sebagai Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI). Dia juga menjabat sebagai Ketua Bidang Perdagangan dan Promosi di Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).

Tagor Sitanggang

Togar Sitanggang kini menjabat sebagai General Manager Musim Mas. Dikutip dari profil Linkedin, dia telah berkarier di perusahaan tersebut selama 10 tahun.

Baca Juga  Kepala Perwakilan BPK Jabar Dicopot Usai Sejumlah Auditornya Ditangkap KPK Dugaan Kasus Suap WTP

Sebelumnya, Togar pernah berkarier di ED&F Man sebagai Country Manager Tropical Oil Division. ED&F Man adalah perusahaan yang bergerak di perdagangan komoditas pertanian global seperti gula, kopi, dan pakan ternak.

Saat ini Togar Sitanggang tercatat sebagai Wakil Ketua Umum gabungan Pergusaha Kelapa Sawit (GAPKI)

Stanley MA

Stanley MA menjabat sebagai Senior Manager Corporate Affair Permata Hijau Group. Dikutip dari profil Linkedin, pria ini telah berkarier selama 15 tahun di perusahaan tersebut.

Sebelumnya, Stanley juga pernah bekerja sebagai internal auditor di Wilmar International. Selama kariernya Stanley banyak menekuni sektor perdagangan impor.

Namanya tercatat di Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) sebagai Wakil Ketua Bidang Pemasaran dan Promosi.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mengungkapkan nilai ekspor CPO mencapai US$ 35 miliar pada 2021. Nilai ini meningkat 52,8% dari US$ 22,9 miliar pada 2020.***