Shaum Sebagai Perisai Api Neraka

KITA sering mendengar kebanyakan para pemimpin umat di segala bangsa mengajak serta menganjurkan hidup sempurna menuju arah perubahan.

Perubahan diri sendiri hingga perubahan tatanan masyarakat pada umumnya.

Dengan demikian, beberapa hal dilaksanakan, baik itu bidang pendidikan, ada juga yang memperbaiki bidang ekonomi dan sosial. Ada pula yang berupaya meningkatkan kedisiplinan budi pekerti dan kesopanan juga yang lainnya sesuai pengalaman serta keilmuan masing-masing yang pada dasarnya perubahan dari keaadaan kurang baik kepada kondisi yang lebih baik lagi.

Bagi kaum muslimin, jalan dan arah menuju perubahan itu telah disediakan oleh Allah swt di dalam segala amal ibadah.

Mulai dari ibadah pokok hingga ke cabang dan ranting-rantingnya.

Di dalam ibadah shaum umpamanya, telah tersedia bahan penting untuk menuju perubahan jasmani dan rohani, moril dan materil, pikiran dan kebendaan berdasarkan langkah dan peta-peta Rasulullah saw.

Baca Juga  [Khutbah Jumat] Menyambut Tahun Baru Hijriyah, Muharam sebagai Bulan Allah

Dalam bidang medis, kita mungkin pernah mendengar bahwa perut kita atau bisa jadi segala perut, jika saja terus menerus bekerja menggiling makanan niscaya akan lemah dan rusak dan jalan paling sempurna untuk mengistirahatkannya adalah dengan shaum (berpuasa) dan hal ini terbukti serta diakui oleh kalangan praktisi kesehatan di seluruh dunia.

Padahal belasan abad silam Baginda Rasulullah saw telah menetapkannya dalam sebagian sabdanya: shumuu tashihhuu, berpuasalah agar senantiasa kalian semua sehat. (HR. Thabrani rhl dari Sy. Abu Hurairah ra)

Seandainya umat Islam dengan kegiatan bershaum tidak menghasilkan perubahan ke arah kebajikan; sakit jadi sehat, muram jadi senyum, lemah jadi kuat, itu karena beberapa hal.

Baca Juga  Banyak lnformasi Palsu Berpotensi Ganggu Kerukunan, Pelopor Penguatan MB Kemenag Diingatkan

Pertama: tidak ada kiat utama untuk berubah kepada kebajikan, sekadar memindahkan jadwal makan dari siang ke malam hari.

Kedua: program shaum yang sebenarnya melatih hidup sederhana di segala bidang malah sebaliknya; makan lebih rakus, berpakaian lebih mencolok untuk seterusnya kehilangan makna shaum yang sesungguhnya.

Shaum sejatinya mampu memperisai diri dari perilaku jahat dan mengumbar nafsu amarah, sebagaimana sabda Baginda Rasul saw; ash-shiyaamu junnatun yustajannubihal ‘abdu minannari, shaum adalah perisai yang bisa membentengi manusia dari keganasan api neraka. (HR. Imam Ahmad-Baihaqi dari Sy. Jabir ra). Dengan bershaum yang sebenar-benarnya pula, kita akan mampuh mengusai nafsu angkara, kesombongan serta perilaku arogan yang kini sangat mencedrai kesucian Ramadhan semisal tawuran, perseteruan dan juga penipuan serta dunia begal membegal.

Baca Juga  Tahun Ini Kabupaten Bandung Barat Dapat Kuota 516 Jamaah Haji, Usianya Dibatasi

Sabda Rasulullah saw dalam sebagian haditsnya: Kita kini kembali dari berperang kecil menuju perang besar yaitu memerangi dan menaklukkan nafsu jelek kita.

Hal ini disempurnakan oleh salahsatu ayat Quran, surah Al Anfal: 53;….dengan demikian, dikarenakan Allah tidak akan merubah ni’mat yang telah diberikan-Nya terhadap suatu kaum selagi mereka belum merubah terhadap segala hal yang berada di dirinya masing-masing.

Akhirnya, semoga senantiasa memberikan kita kekuatan serta ketundukan hati jasmani dan rohani dalam menjalankan ibadah shaum, amin allahumma amin. Allahumma baariklanaa fiirajaba wasy-sya’baana waballighnarramadhaanaa wahashil maqaashidanaa.***

(Ustad Emha Ubaidillah)