“Ngempur Layung di Dusun Linuhung”

Foto: e ubaidillah

Sebuah Cerita Kilas Balik Tentang Kekuasaan Yang Keropos.
Karya Emha Ubaidillah

ANDAI saja isi novel silat klasik ini menyerupai buku-buku dongeng lawas ranah Priangan, maka kata penulisnya sendiri, bisa iya bisa tidak.

Semisal karya S. Sukandar, Sbastian Tito, Adang. S. Tatang Sumarsono dll.

Karena, menurutnya, dari mana lagi ideu mumpuni cerita silat klasik kecuali merujuk ke tulisan-tulisan mereka.

Sebut saja Serial Si Buntung Jago Tutugan, Waliwis Bodas, Serial Pendekar 212 Wiro Sableng, begitu familiar di telinga pada zamannya.

Baca Juga  Santri Sangat Berjasa, Wagub Jabar Ingatkan Peran Penting Jaga NKRI

Hanya, Kang Emha juga tidak mengaku murni ide pribadi bahkan cerita yang ditulis dalam novel Ngempur Layung di Dusun Linuhung banyak diambil dari berbagai naskah buku lawas yang keberadaannya sangat mengkhawatirkan, seiring bertumbangannya toko buku besar serta taman-taman bacaan di seantero Nusantara ini, kata Kang Emha sembari menepis kekhawatiran khalayak, bahwa kebiasaan menyukai hal baru itu lambat laun akan bertemu pada titik jenuh dan berupaya kembali kepada hal yang lama.

Nah, hal lama di sini adalah kebiasaan “mengonsumsi” bacaan konvensional berbentuk buku atau tulisan di atas media kertas.

Baca Juga  Dirjen PAI Kemenag Buka Rekrutmen Calon Pelatih Provinsi PKB Guru PAI Tahap-2

“Jadi, saya berupaya menyediakan hal lama yang pada saatnya nanti akan kembali digandrungi. Bukan berarti saya sebagai penulis anti terhadap dunia gudget.”