Guru sebagai Role Model, menjadi Kunci Utama dalam Pemulihan Krisis Karakter

karakter
Pemerhati Pendidikan dan Ketua Yayasan Penuntun Masa Depanku (PESANKU) Esti Purnawinarni, S.Pd., M.A.P. Pendidik harus memiliki karakter kuat. Para pendidik selayaknya mengajarkan kepada peserta didik mengenai karakter kuat itu agar mereka dapat mengikutinya (Foto: potensinetwork.com/istimewa/Aprianto)

JAKARTA, POTENSINETWORK.COM- Di tengah krisis karakter yang terjadi di tengah bangsa ini, ketika dunia pendidikan merupakan salah satu sektor perhatian khusus, maka guru atau pendidik merupakan sosok mulia, menjadi kunci utama dalam pemulihan krisis karakter yang terjadi.

Pengamat Pendidikan dari Yayasan Penuntun Masa Depanku (Peanku), Esti Purnawinarni, S. Pd., M.A.P., menyampaikan hal pengamatannya mengenai karakter tersebut di Jakarta, belum lama ini.

Menurut Esti Purnawinarni, guru berperan sebagai role model dalam kegiatan sehari-hari sehingga dapat menjadi influencer pembangunan karakter bagi peserta didik.

Baca Juga:  Pengusaha Media Merubah Paradigma: Transisi dari Media Cetak ke Media Online

“Pendidik harus memiliki karakter kuat. Para pendidik selayaknya mengajarkan kepada peserta didik mengenai karakter kuat itu agar mereka dapat mengikutinya” ungkap Esti Purnawinarni.

Ungkap Esti Purnawinarni, bahwa guru dalam konteks program pembangunan, merupakan Sumber Daya Manusia (SDM), menjadi modal dalam menjalankan roda pembangunan.

Terkait hal ini, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek)  mengeluarkan  kebijakan dari mulai pola recruitment,  karier, capacity building serta kesejahteraan.

Pemerintah juga menjadikan peningkatan kualitas pendidik sebagai bagian dari strategi utama merdeka belajar dalam peningkatan mutu pendidikan nasional.

Baca Juga:  Pencarian Eril Terus Berjalan, Meski Perwakilan Keluarga di Swiss Harus pulang ke Indonesia

Pemerintah menyusun kebijakan-kebijakan, berharap dapat terimplementasikan dengan baik sehingga tujuan bersama dapat tercapai.

Namun pada kenyataanya, tidak semua kebijakan dapat terimplementasi secara optimal. Dengan demikian, perlu berbagai jembatan agar policy delivery systems dapat terlaksana.

Di samping tidak terimplementasi dengan baik kebijakan-kebijakan pendidikan dan belum optimalnya budaya merit system dalam lingkup tata kelola kelembagaan, serta kuatnya pengaruh ekonomi kapital dalam menentukan mutu pendidikan, kata Esti Purnawinarni, menyebabkan permasalahan pendidikan semakin serius dan harus untuk segera terselesaikan.

Baca Juga:  Pemkab Bandung harus Tinjau Ulang Pelaksanaan PTM 100%

“Pemerintah tentunya tidak dapat melakukan upaya pemecahan masalah tersebut sendiri” ungkap Esti Purnawinarni.

Prinsip gotong-royong dan kolaborasi dengan cara merangkul elemen masyarakat, kata Esti Purnawinarni, adalah syarat utama dalam menyuskseskan semua kebijakan pendidikan”