CIMAHI, Potensinetwork.com – Di sejumlah daerah Indonesia saat ini dikabarkan merebak kasus penyakit super flu atau influenza A subvarian H3N2 membuat masyarakat cukup hawatir.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cimahi memastikan hingga kini belum ada laporan kasus H3N2 di wilayahnya.
Kendati demikian, kepastian tersebut tidak membuat pihaknya mengendurkan kewaspadaan terhadap super flu. Pasalnya, kini telah tercatat 62 kasus secara nasional dengan 12 di antaranya berada di Jawa Barat, termasuk Kota Bandung yang berbatasan langsung dengan Cimahi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Cimahi, Dwihadi Isnalini menuturkan pihaknya tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap timbulnya penyakit tersebut.
“Kami pastikan sampai saat ini belum ada kasus super flu H3N2 di Cimahi. Tapi kewaspadaan tetap kami tingkatkan,” katanya, Sabtu (10/1/2025).
Menurut Dwihadi, tingginya mobilitas warga di kawasan Bandung Raya menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pencegahan. Arus pergerakan masyarakat yang intens antarwilayah berpotensi mempercepat penyebaran penyakit menular.
“Interaksi warga Cimahi dengan wilayah sekitar, terutama Bandung, sangat tinggi. Ini yang membuat risiko penularan tetap harus diantisipasi sejak dini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Dinkes Cimahi saat ini masih mengandalkan sistem surveilans penyakit menular yang berjalan rutin di seluruh fasilitas kesehatan, baik rumah sakit, puskesmas, maupun klinik. Melalui sistem tersebut, setiap temuan gejala yang mengarah pada penyakit menular akan dipantau secara ketat.
Di sisi lain, Dwihadi mengingatkan masyarakat agar tidak menyamakan super flu dengan influenza musiman. Walaupun gejalanya serupa, dampak yang ditimbulkan bisa jauh lebih berat.
“Demam bisa sangat tinggi, bahkan di atas 39 derajat Celsius, disertai nyeri otot hebat, badan terasa sangat lemah, sakit kepala berat, dan batuk kering,” katanya.
Super flu H3N2, lanjut Dwihadi, menyebar melalui droplet dari batuk dan bersin. Oleh karena itu, tempat-tempat umum yang ramai dinilai memiliki risiko penularan tinggi.
“Virus ini menyebar melalui droplet atau percikan cairan dari batuk dan bersin, sehingga risikonya sangat tinggi di tempat-tempat keramaian seperti sekolah, kantor, atau pasar,” pungkasnya.**



