News  

Jangan Lalai, Waspada Karhutla

Hadi Rahmat

SUMEDANG, Potensinetwork.com – Kabupaten Sumedang menjadi daerah dengan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terbanyak di provinsi itu hingga Agustus 2026. “Kabupaten Sumedang tercatat memiliki kejadian karhutla paling banyak dengan 20 kejadian berdasarkan pembaruan data sampai 27 Agustus 2026,” kata Pranata Humas Ahli Muda BPBD Jabar Hadi Rahmat Hardjasasmita

Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mengaku Pemkab Sumedang dengan berbagai pemangku kepentingan terus meningkatkan sosialisasi dan edukasi tentang karhutla sejak Juni lalu.

“Kami terus melakukan sosialisasi dan edukasi sejak memasuki bulan Juni untuk mulai bersiap menghadapi musim kemarau. BMKG memperkirakan puncak musim kemarau 2026 akan terjadi pada periode Juli hingga September. Informasi prakiraan cuaca dan musim menjadi penting untuk mendukung berbagai sektor, mulai dari pertanian hingga mitigasi bencana,” kata Bupati Dony Ahmad Munir, Rabu (2/9/2026).

Baca Juga:  Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal Siap Atasi Banjir Kabupaten Bandung

Menurutnya, pemerintah mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terutama menghadapi musim kemarau dengan potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), bencana kekeringan.

“Bila bencana terjadi untuk melaporkan pada BPBD Telepon/WA 08112065733 atau pemerintah terdekat,” katanya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sumedang Hendar mengatakan, pihaknya terus meningkatkan pemantauan vegetasi yang mulai mengering serta menggencarkan edukasi agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

“Yang paling penting adalah edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat agar lebih memahami kondisi cuaca ketika memasuki musim kemarau supaya tidak terjadi kelalaian yang berpotensi menyebabkan kebakaran,” ujarnya.

Baca Juga:  Anggota DPRD , Kepada Masyarakat Konstituennya Hadiat sampaikan Tugas DPRD.

Edukasi dinilai penting mengingat sebelumnya, kata dia, hasil penanganan di lapangan tidak menemukan indikasi kebakaran dipicu pembukaan lahan, melainkan dampak dari kelalaian masyarakat di tengah kondisi vegetasi yang mudah terbakar.**