News  

DEN Jadikan Sumedang Percontohan Digitalisasi Bansos

SUMEDANG, Potensinetwork.com – Dewan Ekonomi Nasional (DEN) melakukan kunjungan kerja untuk melihat langsung penerapan Digital Public Infrastructure (DPI) dan digitalisasi perlindungan sosial (Perlinsos) di Command Center Pusat Pemerintahan Sumedang, Selasa (8/9/2026). Kunjungan DEN  turut membawa sekitar 15 investor muda dari berbagai institusi keuangan dan investasi.

Mereka diajak melihat bagaimana teknologi dimanfaatkan pemerintah daerah Sumedang untuk memperkuat akurasi data, mempercepat penyaluran bantuan sosial (Bansos), sekaligus meningkatkan kualitas pengambilan keputusan.

Perwakilan DEN Lutfi mengatakan, Sumedang dipilih sebagai salah satu daerah percontohan karena dinilai memiliki praktik yang menarik dalam penerapan digitalisasi pemerintahan dan pengelolaan Bansos.

Baca Juga:  Polemik Parkir RSUD Merembet ke Isu Ijon Pokir Anggota DPRD Karawang

“Kami ingin melihat langsung bagaimana proses pelaksanaan Bansos agar penyalurannya lebih akurat, efektif, dan cepat ter-update,” ujarnya.

Kunjungan tersebut juga diikuti sejumlah institusi, di antaranya Mainbank, Indopremier, Ashmore, BRI, Nusantara, dan Suko. Kehadiran para investor diharapkan dapat memberikan perspektif langsung mengenai potensi daerah sekaligus membangun kepercayaan terhadap iklim investasi di Indonesia.

Plt Kepala Dinas Kominfosanditik Arif Syamsudin menjelaskan, transformasi digital di Sumedang diarahkan bukan sekadar membangun aplikasi. Teknologi ditempatkan sebagai enabler atau alat bantu untuk mempercepat pelayanan publik dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Konsep yang dikembangkan adalah Data-Driven Government, dengan prinsip sederhana: good data, good decision, good result,”ungkapnya.

Baca Juga:  Evaluasi Citarum, Satgas Susuri Sungai

Ia mengatakan, penerapannya terlihat melalui dashboard pemerintahan yang mengintegrasikan berbagai informasi strategis daerah. Pimpinan dapat memantau kondisi APBD, realisasi belanja, serapan anggaran perangkat daerah hingga arus kas daerah secara lebih cepat.

“Dengan APBD sekitar Rp2,7 triliun, dashboard tersebut memberikan gambaran mengenai posisi anggaran dan realisasi belanja. Bahkan posisi saldo kas daerah di bank juga dapat dipantau,”jelasnya.

Dikatakan Arif, tak berhenti di sektor keuangan, sistem tersebut juga digunakan untuk memantau capaian perlindungan sosial hingga tingkat kecamatan dan desa. Pemkab Sumedang juga memperkuat proses verifikasi dan validasi penerima bantuan sosial.

Baca Juga:  Terus Bertambah, Belasan Ribu Warga Mengungsi Pada Hari ke-5 Pascagempa M6,1

“Data penerima tidak hanya mengandalkan satu indikator. Kondisi kesejahteraan masyarakat dicocokkan dengan berbagai variabel pendukung, termasuk kepemilikan aset seperti rumah, tanah, sertifikat dan kendaraan,” katanya.

Dikatakan Arif, pemutakhiran data juga dilakukan melalui ground check. Kehadiran fisik warga diverifikasi menggunakan Identitas Kependudukan Digital (IKD) sehingga proses pendataan tidak dapat begitu saja diwakilkan. Data hasil verifikasi kemudian dapat dicocokkan dengan data pendukung lainnya, termasuk informasi PBB.

“Model tersebut dirancang untuk mengurangi kesalahan sasaran, duplikasi data dan memastikan bantuan benar-benar diterima masyarakat yang memenuhi kriteria,” katanya.***