GARUT, Potensinetwork.com – Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) Republik Indonesia saat ini sedang melakukan tahapan proses untuk membangun Museum atau rumah kebudayaan Syekh Yusuf Al-Makassari sebagai tokoh asal Sulawesi Selatan di Negara Afrika Selatan yang yang pembangunannya ditargetkan dimulai pada 2027 mendatang.
Direktur Promosi Kebudayaan pada Kemenbud RI, Wawan Yogaswara, mengatakan bahwa Syekh Yusuf Al-Makassari yang merupakan tokoh dari Makassar, Sulawesi Selatan itu ketokohannya diakui sebagai pahlawan di dua negara yakni Indonesia dan Afrika Selatan, yang makam dan peninggalannya juga ada di negara Afrika Selatan.
Dengan adanya tokoh dari Indonesia yang dihormati di negara itu, menurut Wawan, maka Pemerintah Indonesia melalui Kemenbud akan membangun Museum Syekh Yusuf Al-Makassari di Cape Town, Afrika Selatan.
“Sebenarnya tahun ini kita berencana membangun Museum Syekh Yusuf Al-Makassari di Afrika Selatan, tetapi karena perizinannya cukup rumit, kemungkinan baru desain dan baru dilanjutkan tahun depan,” ujar Wawan usai kegiatan Diskusi Budaya bertemakan “Dari Makassar ke Dunia: Menghidupkan Warisan Syekh Yusuf Al-Makassari Sebagai Diplomasi dan Promosi Kebudayaan Nusantara” di Sabda Alam Convention Hall, Jalan Raya Cipanas, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut pada Sabtu (12/9/2026).
Wawan menuturkan, bahwa awal mula akan membangun rumah budaya di negara itu berdasarkan permintaan masyarakat dan keturunan dari Syekh Yusuf Al-Makassari kepada Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang saat itu melakukan kunjungan ke negara tersebut, dan Presiden SBY menyanggupinya.
“Waktu itu Pak SBY menyanggupi diri, maka dibuatlah perencanaan, tetapi karena mungkin anggarannya belum ada, berjalannya waktu, pas Menteri Kebudayaan datang ke Cape Town ditagih sama Menteri Budaya di sana,” ucapnya.
Selanjutnya, menurut Wawan, Kemenbud menindaklanjuti dengan rencana pembangunannya mengadopsi arsitektur Kerajaan Gowa dulu yang dimodifikasi disesuaikan dengan kondisi lingkungan daerah tropis di Afrika Selatan. Ia menyebutkan, terkait anggaran untuk pembangunannya sudah disiapkan sebesar Rp62 miliar dengan harapan bisa selesai perizinan dan pembangunannya di tahun 2027.
“Ya, Insya Allah tahun depan sudah bisa dibangun,” katanya.
Wawan berharap, adanya museum atau rumah kebudayaan di negara Afrika Selatan tersebut semakin mempererat persabatan antarnegara, disamping merupakan kebanggaan tersendiri, kemudian juga bisa menjaga dan mengenalkan nilai-nilai kebudayaan dari Sulawesi Selatan, umumnya Indonesia, dan nantinya bisa berkembang sebagai rumah budaya Indonesia atau pusat kebudayaan Indonesia.
Wawan menyampaikan, bahwa gerakan tokoh dari Makassar itu telah membawa ajaran Islam, ajaran Tasawuf, juga berperan sebagai patriot, kemudian seorang intelektual, dan membawa nilai budayanya ke luar. Ia menuturkan, dalam perjalanannya, Syekh Yusuf Al-Makassari sempat diasingkan oleh Belanda ke Sri Lanka. Karena membahayakan pengaruhnya terhadap anak muda di sana, kemudian dipindahkan ke Cape Town, Afrika Selatan. Menurutnya, keberadaan Syekh Yusuf Al-Makassari di negara itu telah menyebarkan banyak ajaran yang baik, mengembangkan ajaran Islam yang cukup cepat diterima masyarakat.
“Beliau meninggalkan banyak ajaran-ajaran baik, jadi Islam berkembang cukup cepat di sana, dan di sana ada kampung yang namanya Kampung Macassar. Sampai saat ini Syekh Yusuf Al-Makassari menjadi panutan bagi masyarakat di negara itu, bahkan setiap tahunnya ada Festival Keramat sebagai kegiatan penghormatan. Banyak peninggalannya dalam bentuk manuskrip-manuskrip di sana,” katanya.
Wawan menyampaikan, bahwa kegiatan diskusi tersebut dalam rangkaian peringatan 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari sebagai tokoh Indonesia atau Nusantara yang memiliki kepahlawananya di dua negara yakni Indonesia dan Afrika Selatan.
Salah satu tokoh tersebut, menurutnya, tentunya bisa mendorong daerah lain seperti di Kabupaten Garut untuk menggali potensi tokoh maupun budaya kemudian diakurasi sampai akhirnya bisa dipromosikan ke tingkat internasional.
“Sebenarnya di Garut ini kan kita menyadarkan bahwa semua orang Indonesia juga bisa, artinya menjadi tokoh, menjadi berdiplomasi gitu ya, berdiplomasi enggak mesti harus diplomat, berdiplomasi membawa kebudayaan ke luar. Dan d Garut juga banyak potensial ya, kebetulan karena saya di Direktorat Promosi. Apa saja sih potensi di Garut yang bisa kita bawa ke luar, kita promosikan,” ucapnya.
Ia menambahkan, upaya mencari ketokohan dan kebudayaan yang bisa diangkat ke tingkat internasional itu salah satu dari tujuan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan yang menjelaskan bahwa Indonesia ikut menentukan arah peradaban dunia. Menurut Wawan, adanya ketokohan Indonesia yang bisa dikenal luar negeri itu tentu menjadi kebanggaan bagi bangsa Indonesia, salah satunya yang saat ini sedang didiskusikan tentang ketokohan dari Makassar Syekh Yusuf Al-Makassari.
“Ini sebagai bentuk kebanggaan Indonesia. Diangkat pahlawan di dua negara Indonesia dan Afirka Selatan,” ucapnya. (*)




