News  

Konstalasi Politik Jelang Pemilihan Ketua Apdesi Kabupaten Bandung

KAB BANDUNG, Potensinetwork.com – Jelang pemilihan Ketua APDESI Kabupaten Bandung pada bulan November mendatang, udara di antara desa-desa di Kabupaten Bandung terasa semakin panas dan sarat dengan ketegangan.

Nama-nama mulai bermunculan, Dalam peta Konstalasi Politik kekuatan mulai tergambar jelas, dan satu pertanyaan besar kini menggantung di bibir setiap Kepala Desa: *”SIAPA KUAT AKAN MERAIH KURSI UTAMA APDESI?”*

Tapi tunggu dulu, di balik hiruk-pikuk pencalonan ini, satu hal yang mulai terlihat terang benderang. Ada sosok calon yang terlihat sangat dekat, bahkan nyaris tak terpisahkan dari lingkaran kekuasaan di Pemerintah Kabupaten Bandung. Apakah ini sekadar kebetulan atau memang ada “lampu hijau” yang menyala terang untuk satu nama tertentu saja?

Khalayak mulai bertanya, para Kades mulai berbisik. Apakah kita sedang menyaksikan sandiwara yang naskahnya sudah ditulis dari atas sana?

Baca Juga:  Akselerasi Program Menimpas, Kalapas Garut Sambangi Polres dan BNNK Garut

*DUA WAJAH PERSAINGAN: KEBERANIAN VS KERAGUAN*

Namun di tengah semua itu, muncul sosok yang sungguh menyegarkan semangat demokrasi. Ada calon yang begitu berani tampil ke muka, melangkah maju tanpa bersembunyi di balik bayang-bayang kekuasaan. Ia berdiri di atas kaki sendiri, tak punya kedekatan istimewa dengan siapa-siapa di lingkaran atas, namun keberaniannya itu saja sudah cukup membuat namanya diperhitungkan serius oleh semua pihak.

Sebuah keberanian yang patut diacungi jempol, karena ia berlaga atas nama rakyat, bukan atas nama perlindungan kekuasaan.

Di sisi lain, belum semua berani melangkah tegas ke depan. Ada pula calon yang sesungguhnya berkeinginan kuat untuk maju, namun langkahnya masih tertahan — terlalu banyak menengok ke kiri dan ke kanan, menanti siapa yang akan maju lebih dulu, takut salah langkah, ragu menentukan sikap.

Baca Juga:  Kabupaten Sukabumi Apresiasi Kabupaten Bandung Sebagai Tuan Rumah MTQH XXXIX Jabar

Perbincangan hangat tak lagi hanya terjadi di ruang tertutup, tapi sudah meledak di mana-mana. Tidak sedikit para Kades yang hanya bisa menyuarakan melalui komentar namun tidak memiliki keberanian untuk maju.

Itulah *TAHTA PANAS KURSI UTAMA APDESI.* Di pertemuan antar Kades, di grup-grup percakapan, semua mata tertuju pada persaingan ini.

Namun yang paling mengkhawatirkan, terlihat jelas adanya kedekatan antar beberapa calon yang sama-sama berlaga di ajang ini. Kedekatan yang bukan sekadar pertemanan biasa, melainkan pola yang memunculkan kecurigaan mendalam.

Apakah di antara mereka sedang terjadi tawar-menawar kesepakatan di bawah meja? Sebuah barter jabatan dan kepentingan yang akan mengorbankan suara dan kehendak sejati para Kepala Desa?

Baca Juga:  Gedung Setda Kab.Bandung yang Baru Harus Jadi Motivasi Tingkatkan Kinerja Pelayanan

*KITA TUNTUT DEMOKRASI YANG SEJATI*

Pilihan Ketua APDESI *HARUSLAH BERLANGSUNG SECARA DEMOKRATIS, TERBUKA, DAN TRANSPARAN.*

Bukan dengan cara aklamasi yang mematikan hak memilih dan dipilih.
Bukan dengan rapat tertutup yang tak siapa pun tahu apa yang dibicarakan.

Kita menolak demokrasi semu yang hanya menghadirkan satu nama lalu diputuskan serentak tanpa perdebatan, tanpa pilihan yang nyata.

Jangan biarkan tahta Ketua APDESI jadi milik siapa yang paling dekat dengan penguasa, tapi jadikanlah milik siapa yang paling dekat dengan kebenaran dan nasib desa-desa.

Kepada yang masih ragu, Beranilah!
Kepada yang sudah berdiri tegak, Teruslah Melangkah!

Karena yang dibutuhkan bukan mereka yang pandai mencari perlindungan, tapi mereka yang berani berdiri untuk kepentingan semua.***