Pelajaran Budidaya Lele dari Chandra di Bandung: Dari Perasaan ke Data, Kunci Sukses Budidaya Lele Secara Ilmiah

lele
Chandra (baju hitam) berada di kolam pemijahan lele, memantau indukan lele yang telah siap pijah sebagai bagian dari penerapan budidaya berbasis pemikiran ilmiah. (Foto: potensinetwork.com/Istimewa)

KOTA BANDUNG, POTENSINETWORK.COM – Diskusi budidaya ikan lele berlangsung terus bersama Instruktur pelatihan budidaya ikan Dinas Sosial Kota Bandung, Chandra, di Bandung belum lama ini.

Paparan mendalam dan penting tersampaikan sehingga menambah khazanah pembudidayaan sebagai bekal berkarya peserta. Bahasan Chandra saat ini mengenai berbagai fenomena pembudidayaan dan juga olah pikir terkait hal tersebut selama ini.

Menurut Chandra, banyak kekacauan di kolam pembudidaya bukan karena nasib buruk atau sabotase, melainkan karena keputusan diambil berdasarkan perasaan, bukan data.

Chandra berpendapat, bahwa pada beberapa ungkapan bersifat opini subjektif, membentuk argumentasi mengenai peristiwa pada segmen pembenihan. Misalnya tentang pemberian pakan dalam proses pembenihan, bahwa selama larva ikan dimulai awal sampai hari ke-10 pada saat itu menggunakan cacing sutra.

Selanjutnya hari ke-11 sampai ke segmen pendederan 1 (sampai ukur bak sortir 3), sudah tidak menggunakan pakan jenis cacing sutra, namun full pakan pelet dibibis atau dicampur kocokan telur dan air fermentasi yang ditambahkan multienzym serta multivitamin. Setelah ikan masuk ke ukuran bak sortir 4, sudah tidak menggunakan campuran kocokan telur, namun pakan pelet dicampur dengan air fermentasi ditambahkan kembali multienzym dan multivitamin,” ujarnya saat menjelaskan manajemen pakan yang ia terapkan.

Pola pakan berubah sesuai fase ini terdengar teknis, tapi bagi Chandra ia adalah contoh kecil dari satu prinsip besar: jangan menebak, ukur dan baca polanya.

Baca Juga:  Bupati Bandung Buka MIDEFest Majalaya

Saat Perasaan Menjadi Hakim

Chandra menyoroti kebiasaan yang ia sebut “konyol” di lapangan. “Prilaku ‘konyol’ menyimpulkan kematian massal ikan akibat rasa iri orang lain dengan menebar racun pada perairan kolam,” katanya.

Menurutnya, ketika pembudidaya tidak punya data, otak akan mencari penjelasan paling mudah diterima emosi. “Saat rasa dan indra manusia dijadikan puncak keputusan, di sanalah awal mula terjadinya bias kebenaran terhadap realitas,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa manusia butuh standar lebih kokoh dari sekadar intuisi. “Manusia wajib memiliki standar nilai kebaikan dan keburukan. Standar ini tidak bisa lahir dari asumsi diri sendiri, melainkan harus digali dari fenomena alam semesta (Kauniyah) atau petunjuk wahyu dari Sang Maha Cerdas (Qauliyah), dan dasar kaidah ini bersifat universal,” jelas Chandra.

Prinsip itu ia tarik langsung ke praktik di kolam. “Jika konteksnya ditarik ke dalam pengolahan air budidaya ikan, mengukur kebenaran kualitas air hanya bermodalkan ‘perasaan’ atau indra (seperti melihat warna air atau sekadar mencelupkan tangan) pasti akan melahirkan kekacauan (entropi),” ujarnya.

“Hanya akal yang mampu mengolah informasi secara objektif untuk menghasilkan keputusan tepat. Informasi itu pun bukan dikarang, melainkan dibaca dari fenomena alam yang polanya diwakili oleh angka pembentuk ‘bahasa sains’,” lanjutnya.

Mitos Panas Matahari vs Realitas pH

Untuk membuat prinsip itu nyata, Chandra memberi contoh yang sering salah kaprah di lapangan. “Contoh Nyata di Kolam: Mitos Panas Matahari vs Realitas pH Banyak yang mengira saat siang hari, untuk cahaya matahari terik langsung menaikkan nilai Potensial Hidrogen (pH) karena air menjadi panas (kalor). Secara ilmiah, panas matahari tidak secara langsung menaikan nilai pH,” jelasnya.

Baca Juga:  Pengusaha Media Merubah Paradigma: Transisi dari Media Cetak ke Media Online

Yang sebenarnya terjadi, kata dia, adalah aktivitas mikroorganisme. “Dinamika pH di perairan justru digerakkan oleh aktivitas mikroorganisme fotoautotrof, salah satunya adalah fitoplankton (mikroalga yang membuat air tampak hijau). Saat siang hari, fitoplankton melakukan fotosintesis intensif. Ketika pasokan gas karbondioksida terlarut (CO2) habis, kesetimbangan kimia air bergeser CO₂ + H₂O ⇌ H₂CO₃ ⇌ H⁺ + HCO₃⁻,” paparnya.

Proses itu berlanjut ketika fitoplankton kehabisan CO2 bebas. “Fitoplankton terpaksa menyerap ion bikarbonat (HCO₃⁻) secara masif sebagai sumber karbon pengganti. Proses pemecahan bikarbonat di dalam sel alga ini menyisakan dan melepaskan ion hidroksida (OH⁻) kembali ke kolam. Melimpahnya ion OH⁻ inilah yang membuat air kolam mendadak menjadi sangat alkali atau basa ekstrem (pH > 9,5) pada siang hari,” terang Chandra.

Solusinya: Percaya pada Instrumen, Bukan Indra

Karena perubahan itu tidak bisa dilihat mata, Chandra menekankan pentingnya alat ukur. “Solusinya Jangan Percaya Perasaan, Percayalah pada Data Instrumentasi. Mata atau kulit kita tidak akan pernah bisa melihat pergerakan ion H⁺ atau OH⁻ di dalam air. Oleh karena itu, jangan jadikan indra sebagai penentu keputusan mutlak,” katanya.

Baca Juga:  Magot dan Kang Empos di Kelurahan Mekarmulya: Sampah Menjadi Berkah dan Manfaat Berkesinambungan

Ia mendorong pembudidaya menggunakan alat sederhana yang sudah tersedia. “Gunakan alat ukur atau instrumen (pH meter, TDS meter, Suhu meter, TSS meter, DO meter, ORP meter). Alat alat tersebut yang membantu indra kita untuk menyuplai data akurat berupa angka ke dalam akal, agar proses olah pikir menghasilkan keputusan manajemen air yang tepat,” ujarnya.

Konsekuensinya besar jika diabaikan. “Kekacauan besar akan terjadi jika pH air dibiarkan terlalu asam atau terlalu basa. Jaringan organ tubuh ikan (seperti insang dan mulut ikan) akan rusak secara kimiawi,” jelas Chandra.

Dan di sinilah lingkaran masalah itu kembali ke titik awal. “Ironisnya, sering terjadi kematian massal di mana para pembudidaya tidak mengetahui realitas kadar pH yang sedang terjadi di kolamnya. Karena minimnya data akurat, lahir keputusan yang ‘konyol’ seperti menyimpulkan kematian massal ikan akibat racun di tebar orang lain yang iri pada usahanya. Padahal, jawabannya murni berada pada angka kualitas air yang gagal mereka baca,” tutupnya.

Bagi Chandra, budidaya ikan adalah latihan berpikir ilmiah. Ketika angka menggantikan perasaan, kolam yang sehat dan hasil yang stabil bukan lagi kebetulan, melainkan konsekuensi logis dari keputusan yang tepat. (Aprianto)