Dari Pijah Alami sampai Sortir Final, Ini Ilmu Budidaya Lele yang Jarang Diajarkan

Pijah
Peserta pelatihan budidaya ikan dari Dinas Sosial Kota Bandung bersama instruktur melakukan proses sortir benih lele di Kolam Pak Chandra, Minggu 10 Mei 2026. Benih lele dituang dari bak sortir ke wadah untuk dipisahkan berdasarkan ukuran. Setelah ditimbang, seluruh benih langsung dibeli oleh pengepul yang hadir di lokasi. (Foto: potensinetwork.com/Aprianto)

KABUPATEN BANDUNG, POTENSINETWORK.COM – Suasana sore di Kolam Pak Chandra di Cileunyi Kabupaten Bandung, Minggu, 10 Mei 2026, berbeda dari biasanya. Sejumlah peserta pelatihan budidaya ikan dari Dinas Sosial Kota Bandung berkumpul untuk menyaksikan panen dan sortir benih lele yang jadi puncak dari proses 40 hari penuh pembelajaran.

Kegiatan yang berlangsung dari pukul 15.30 hingga 18.00 WIB ini bukan sekadar panen biasa. Dari tiga kolam tembok ukuran 1×3 meter, terkumpul sekitar 10 kilogram benih lele siap jual. Benih itu langsung dibeli pengepul saat itu juga, menutup rangkaian kegiatan dengan hasil nyata.

Dari Pijah Alami Hingga Sortir Final

Prosesnya dimulai 40 hari sebelumnya ketika Pak Chandra melakukan pemijahan alami sepasang indukan lele tanpa suntik hormon. Induk betina berusia tiga tahun dan induk jantan satu tahunan dipasangkan di kolam sendiri. Telur yang menetas di kakaban ijuk kemudian dipindahkan ke kolam tembok untuk dipelihara.

Baca Juga:  Geo Dipa Tanam 1.000 Pohon di Hari Gerakan Sejuta Pohon Sedunia

Selama 40 hari, pengawasan dilakukan ketat. Penutup kolam dipasang jika suhu air melewati batas ambang dan membuat air menjadi basa, terutama saat telur menetas hingga larva usia 10 hari makan. Meski suhu di lapangan kadang naik sampai 30-31 derajat, yang dipantau adalah pH air karena itu yang paling memengaruhi kondisi larva.

Untuk pakan, peserta belajar bahwa larva tidak diberi kombinasi pakan. Hanya cacing sutra yang digunakan selama dua minggu pertama. Pemberian dilakukan sekaligus untuk lima hari, bukan pagi-sore. Masuk hari ke-11 makan larva, pakan diganti ke pasta buatan sendiri dari pelet, enzym, vitamin, air fermentasi, dan telur. Frekuensinya 5-6 kali sehari dengan jeda 4 jam.

Pada hari ke-28 makan larva atau 28 April 2026, dilakukan sortir awal pakai Bak Sortir 3. Setelah itu, benih tetap dipelihara di kolam yang sama dengan pakan pasta sampai siap panen dan disortir final menggunakan Bak Sortir 5 dan Bak Sortir 6.

Baca Juga:  Minyak Goreng Mahal, Gubernur Jabar Harap Pemerintah Pusat Kendalikan Harga

Parameter Air Jadi Fondasi Utama

Selain teknik sortir, peserta mendapat pemahaman mendasar yang sering diabaikan pembudidaya pemula. Pengolahan air dan pengelolaan parameter air menjadi modal utama. Metode budidaya apapun, baik konvensional, alami, maupun bioflok, tidak akan efektif jika airnya tidak sehat.

Peserta juga belajar menyesuaikan pakan dengan fase pertumbuhan, mulai dari cacing sutra untuk larva, pasta untuk umur 11 hari, hingga pelet fermentasi untuk ukuran dewasa. Kepadatan ikan pun dipahami secara praktis. Contohnya, 1 kg ikan dalam 100 liter air cenderung membuat air asam, sedangkan dalam 500 liter air cenderung membuat air basa. Dari situ peserta tahu cara mengatur kepadatan agar pH tetap stabil.

Waktu pemberian pakan juga disesuaikan dengan metabolisme ikan. Untuk pembenihan, pakan diberikan 5-6 kali sehari dengan jeda 3-4 jam. Untuk pembesaran, cukup 3 kali sehari dengan jeda 6-8 jam.

Bantah Mitos dengan Data LapanganP

Baca Juga:  Produksi Kentang Kabupaten Bandung Cukup Tinggi, Bisa Kontribusi Kebutuhan di Jabar

Yang menarik, pelatihan ini sekaligus menjadi ajang pembuktian. Banyak anggapan “tidak mungkin” dari versi pembudidaya tradisional maupun informasi dari AI yang terbantahkan lewat praktek langsung di lapangan.

Hasilnya, peserta tidak hanya pulang dengan teori, tapi juga data dan pengalaman nyata. Mulai dari cara menjaga kualitas air, mengatur pakan, menghitung kepadatan, hingga memisahkan benih sesuai ukuran pasar menggunakan bak sortir.

Kegiatan ditutup dengan suasana tertib dan antusias. Bagi Dinas Sosial Kota Bandung, pelatihan ini diharapkan melahirkan pembudidaya baru yang tidak hanya ikut-ikutan, tapi paham dasarnya dan siap bersaing.

Dengan hasil 10 kilogram benih lele yang ludes terjual di hari panen, pelatihan ini membuktikan satu hal: budidaya ikan yang baik dimulai dari pemahaman air, bukan sekadar ikut tren metode. (Aprianto)