“Perbuatan terdakwa itu bukan saja berpengaruh kepada kehormatan fisik, tapi berpengaruh ke psikologis dan emosional para santri keseluruhan,” ujar Asep.
Dan yang menurutnya paling berat, yakni Herry menggunakan simbol-simbol agama dan pendidikan untuk melancarkan aksinya tersebut. “Presiden pun sudah menaruh perhatian terhadap kejahatan terdakwa,” ujar dia.
Herry Wirawan dituntut bersalah sesuai dengan Pasal 81 ayat (1), ayat (3) Dan (5) jo Pasal 76D UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Pasal 65 ayat (1) KUHP sebagaimana dakwaan pertama.”
Sebelumnya keluarga 13 santriwati korban pencabulan meminta terdakwa Herry Wirawan (36) dijerat hukuman mati.
“Korban menginginkan pelaku ini dijerat dengan hukuman mati sesuai dengan UU Perlindungan Anak perubahan kedua,” kata kuasa hukum korban, Yudi Kurnia saat mendapampingi saksi anak dalam persidangan lanjutan kasus pencabulan yang dilakukan terdakwa Herry Wirawan di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jalan Riau, Selasa (21/12), dilansir dari Jpn.com.
Jaksa menerapkan UU Perlindungan Anak perubahan kesatu, yang mana dalam perubahan ke satu enggak ada hukuman mati atau kebiri hanya ancaman 15 tahun dan di dalam pasal 81 ayat 3 ada pemberatan karena pelaku adalah guru, jadi ancaman hukuman 20 tahun,” ujarnya.
Oleh karena itu, Yudi berharap jaksa penuntut umum bisa mempertimbangkan untuk mengubah tuntutan sesuai perubahan kedua yang mengatur hukuman mati dan kebiri.
“Mudah-mudahan dalam tuntutan diterapkan itu (hukuman mati),” ujarnya.***









