Menelusuri Jejak Karuhun Orang Sunda


(Catatan Terjemahan Drs Yosep Iskandar)

Bab XXVIII

Tragedi Perang Bubat

KETIKA rombongan mempelai wanita, terdiri dari para petinggi kerajaan Sunda, tiba di Majapahit, mereka terheran-heran, karena hanya dipersilahkan untuk beristirahat di barak pesanggrahan alun-alun Bubat.

Mengapa tidak di komplek keraton?
Dengan demikian, prabu Linggabuana segera mengutus seorang perwira angkatan perangnya untuk mendatangi keraton Majapahit.

Utusan tersebut diterima oleh Mahapatih Gajah Mada.

Sang Mahapatih Majapahit tersebut memberi penjelasan bahwa upacara pernikahan akan segera dilaksanakan akan tetapi posisi Putri Citraresmi tidak boleh tidak harus menjadi ‘upeti’ sebagai simbol takluknya kerajaan Sunda oleh kerajaan Majapahit.

Baca Juga:  Khawatir Sekuler, Wagub Jabar Minta Orang Tua Seimbangkan Pendidikan Duniawi-Ukhrawi untuk Anak

Tentu saja utusan maharaja sunda terkejut bukan main, hingga terjadi perdebatan sengit dengan Mahapatih Gajah Mada.

Utusan kerajaan Sunda jelas saja menolak.

Hal itu disikapi oleh Gajah Mada sebagai tantangan perang, untuk kemudian memerintahkan patih-patih bawahannya untuk mengerahkan angkatan perang Majapahit.

Penulis: emha ubaidillah