Bahkan di luar dugaan, benteng prajurit sebelah barat dan selatan bertumbangan “dicacarbolang” oleh kesatria Sunda yang gagah berani.
Tapi ketidakseimbangan perang brubuh tersebut hanya menghabiskan waktu sebegitu cepat, dari pagi buta hingga menjelang tengah hari siang bolong.
Rombongan mempelai kerajaan Sunda tewas tak tersisa, termasuk Mahaprabu Linggabuana beserta permaisuri Laralinsing, juga putri Citraresmi Dyah Pitaloka.
Mereka para petinggi ksatria Sunda yang tewas suci adalah; Rakeyan Tumenggung Larang Ageung, Rakeyan Mantri Sohan, Yuwamantri (Mantri Muda) Gempong Lotong, Sang Panji Melong Sakti, Ki Panghulu Sura, Rakeyan Mantri Saya, Rakeyan Rangga Kaweni, Sang Mantri Usus (Bayangkara Pengawal Raja), Rakeyan Senapatiyuda Setrajali, Rakeyan Juru Siring, Ki Jagat Saya (Patih Mandala Kidul), Sang Mantri Wirayuda, Rakeyan Nakoda Bule (Nakhoda Kapal), Rakeyan Nakoda Braja (Panglima A.L.), Ki Juru Wastra, Ki Mantri Sebrang Keling, Ki Mantri Supit Kelingking, berikut para bayangkara dan belasan pengiring perempuan juru rias pengantin.
Dengan peristiwa tragedi Bubat ini, jelas sudah bahwa tatar Sunda tidak pernah masuk ke kedaulatan kerajaan Majapahit.
Kerajaan Sunda merdeka dari kekuasaan Majapahit ini tertulis di sebuah prasasti: “Tathapyan mangkana Sundhabhumi tan kalindih dening rajya Wilwatika (Dengan demikian Tatar Sunda tidak tunduk di bawah kekuasaan kerajaan Wilwatikta).
Kejadian Perang Bubat terjadi pada hari Selasa Wage sebelum tengah hari. Seluruh pengiring mempelai serta para petinggi dan perwira Sunda gugur suci di palagan Bubat.




