Menelusuri Jejak Karuhun Orang Sunda

Ratusan prajurit beserta para perwira bayangkara Majapahit, sekelompok kuda dan gajah pun tewas di tangan para ksatria Sunda.

Bumi Bubat basah oleh darah, lengkap dengan pemandangan getir bergelimpangan mayat-mayat dari kedua belah pihak.

Seisi keraton Trowulan Majapahit tersentak kaget karena segalanya di luar perintah Prabu Hayam Wuruk. Sang Prabu berikut para raja Nusantara yang tengah melaksanakan upacara seba upeti segera mendatangi alun-alun Bubat.

Sang Prabu berduka apalagi ketika mendapati tubuh Putri Citraresmi membeku dengan senjata patrem menembus jantungnya. Ia bunuh diri sebagai “balamati” terhadap negara dan bangsanya.

Baca Juga:  Budak Angon: Kepemimpinan dalam Wangsit Leluhur Sunda, Seleksi Ilmiah, Alamiah, dan Ilahiyah

Dengan tangisan menggetarkan jiwa, Sang Prabu segera mengangkat mayat Citraresmi ke atas kereta kuda.

Selanjutnya memerintahkan para penggawanya agar mayat-mayat yang lainnya diamankan satu persatu dimasukan ke peti bandusa (tambela) untuk kemudian diberi tanda dan nama sesuai jabatannya.

Sang Prabu Hayam Wuruk memetintahkan Majapahit berduka dan berkabung; panji dan bendera Majapahit dan Kerajaan Sunda dipasang di seluruh pelosok negeri.

Penulis: emha ubaidillah