Sementara utusan kerajaan Sunda bersegera kembali ke pesanggrahan Bubat.
Prabu Linggabuana merenung sejenak dengan beribu penyesalan mendalam. Walau bagaimanapun, para kesatria Sunda tidak akan mampu membendung angkatan perang Majapahit yang terkenal perkasa dan berjumlah besar.
Namun jika para ksatria Sunda tewas maka hanya harga diri Sunda yang dipertaruhkan.
Dalam ketermenungan seluruh petinggi di dalam tenda pesanggrahan untuk kemudian bermusawarah dan menghasilkan satu tekad bahwa tantangan lawan harus dilayani meski darah Sunda
akan mengalir di palagan Bubat.
Dengan disaksikan 97 orang dan aparat kerajaan di tengah pesanggrahan, Prabu Linggabuana bersumpah sambil mengacungkan kujangnya:
“Najan getih bakal ngamalir jiga walungan di ieu palagan Bubat, tapi harga diri kahormatan kami jeung kabeh sinatria Sunda, moal ngantep lakuning hianat ka nagara jeung rahayat kami. Panceg, muga dia ulah galideur. Lawan!”
Tak lama kemudian, rombongan angkatan perang Majapahit pimpinan Mahapatih Gajah Mada tiba di alun-alun Bubat. 98 kesatria Sunda segera menyongsong.
Perang tak seimbangpun tidak dapat lagi dihindari.




