Daerah  

Sunni Dan Syiah Upaya Yang Mulia, Sebuah Persatuan di Hari Kebangkitan Nasional

sunni
Logo Forum Persaudaraan Muslim Sunni–Syiah Indonesia yang mengusung semangat persatuan, ukhuwah, dan kebhinekaan umat Islam di Indonesia. (Foto: potensinetwork.com/Istimewa)

KOTA BANDUNG, POTENSINETWOR.COM – Semangat persatuan umat Islam mewarnai sebuah pertemuan keagamaan yang digelar di kawasan ITC Kebon Kelapa, Kota Bandung, belum lama ini. Kegiatan tersebut menghadirkan tausiah sekaligus deklarasi Forum Persaudaraan Muslim Sunni–Syiah Indonesia sebagai upaya mempererat ukhuwah di tengah perbedaan mazhab.

Acara tersebut mendapat perhatian dari berbagai kalangan, salah satunya Kemal Asmara Hadi, cucu pahlawan kemerdekaan Inggit Garnasih. Ia mengaku awalnya tidak terlalu tertarik menghadiri kegiatan keagamaan tersebut karena menganggap pembahasan yang diangkat akan bersifat normatif seperti pertemuan agama pada umumnya. Namun ketertarikannya muncul setelah mengetahui adanya deklarasi persaudaraan Sunni dan Syiah dalam agenda acara.

Menurut Kemal, forum tersebut merupakan langkah mulia untuk mendekatkan dua mazhab utama dalam Islam yang selama ini masih sering memiliki perbedaan pandangan dan berpotensi memunculkan konflik di tengah masyarakat.

Baca Juga:  Bupati Bandung Apresiasi Peran PMI dalam Kemanusiaan dan Kebencanaan

“Forum ini sangat penting untuk memperkecil perbedaan dan memperbesar kesamaan antara Sunni dan Syiah,” ujarnya.

Dalam kegiatan itu, sejumlah narasumber menyampaikan materi yang tidak hanya membahas hubungan Sunni dan Syiah dari sisi agama, tetapi juga dikemas dalam perspektif nasionalisme, budaya, dan kebhinekaan. Para pembicara menekankan bahwa kedua mazhab memiliki banyak kesamaan mendasar dalam ajaran Islam.

Kesamaan tersebut di antaranya sama-sama menyembah Allah SWT, menggunakan Al-Qur’an yang sama, meyakini Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir, mengucapkan syahadat, menjalankan salat wajib lima kali sehari (Subuh, Dzuhur, Ashar, Magrib, dan Isya), berpuasa Ramadan, serta mempercayai hari akhir.

Baca Juga:  438 Taruna Diwisuda, Kasad: Menjadi Perwira TNI AD Tak Cukup Ketangguhan Fisik

Kemal menilai, perbedaan mazhab seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menjauh. Menurutnya, umat Islam saat ini memiliki tantangan yang lebih besar, seperti memerangi kemiskinan, kebodohan, dan berbagai fitnah terhadap Islam.

Ia juga mengajak seluruh umat Islam untuk terus menjaga ukhuwah dan tidak membeda-bedakan sesama muslim hanya karena perbedaan mazhab.

“Kita boleh berbeda mazhab, tetapi jangan membeda-bedakan umat,” katanya.

Melalui momentum Hari Kebangkitan Nasional, forum tersebut diharapkan menjadi ruang dialog yang mampu membangun kesamaan pandang, memperkuat persatuan, serta terus berlanjut dengan tema-tema yang mendorong kerukunan umat dan kebangsaan. (Aprianto)