Daerah  

IJABI Gelar Refleksi Budaya Asyura 1448 H di Bandung, Angkat Nilai Pengorbanan dan Kemanusiaan

refleksi
K.H. Miftah Fauzi Rakhmat memimpin refleksi budaya melalui Mystical Art Performance dalam peringatan Asyura 1448 H di Bandung, mengajak jamaah meneladani nilai empati dan kemanusiaan. (Foto: potensinetwork.com/Istimewa)

KOTA BANDUNG, POTENSINETWORK.COM, – Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI) menggelar acara Refleksi Budaya dalam rangka memperingati Asyura dan Tahun Baru Hijriah 1448 H di pusat Kota Bandung, belum lama ini. Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut mengusung tema “Membangun Bangsa dengan Teladan Asyura; Ikhtiar Pengorbanan untuk Merawat Persatuan dan Kemanusiaan.”


Suasana Refleksi Budaya Asyura 1448 H di Bandung dipadati lebih dari 1.400 jamaah pecinta Ahlulbait yang mengikuti rangkaian acara dengan khidmat dan penuh kekhusyukan. (Foto: potensinetwork.com/Istimewa)

Sedikitnya 1.400 jamaah pecinta Ahlulbait dari berbagai daerah di Jawa Barat dan sekitarnya menghadiri acara. Momentum ini menjadi ruang refleksi atas nilai-nilai sejarah Karbala yang dinilai tetap relevan dalam menjawab tantangan kebangsaan saat ini.

Perwakilan IJABI, Syamsuddin Baharuddin, menjelaskan bahwa peringatan Asyura bukan sekadar mengenang peristiwa sejarah, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan dan persatuan. Menurutnya, tragedi Karbala yang menimpa Imam Husain bin Ali dan para syuhada menjadi simbol perjuangan menegakkan kebenaran di tengah kezaliman.

Baca Juga:  DIKDIK BAGJA; ' .. hadirkan pendidikan terbaik dan komitmen buka lapangan kerja seluas-luasnya

“Peristiwa Karbala mengajarkan bahwa pengorbanan adalah kesediaan menempatkan kepentingan yang lebih besar di atas kepentingan pribadi. Nilai ini sangat penting di tengah berbagai tantangan bangsa saat ini,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kondisi sosial kebangsaan yang diwarnai meningkatnya intoleransi, ujaran kebencian, dan polarisasi di tengah masyarakat. Menurutnya, melemahnya rasa saling percaya dan penghormatan antarsesama menjadi ancaman serius bagi persatuan nasional.

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan Yasin dan Tahlil yang ditujukan bagi para guru serta syuhada, dilanjutkan lantunan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta Hymne dan Mars IJABI. Suasana semakin khusyuk dengan pembacaan shalawat yang dibawakan oleh Habib Hamid Alaydrus bersama tim Cahaya Rindu Rasul.

Ketua Umum Tanfidziyah PP IJABI, Ustadz Maran Sutarya, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa tragedi Karbala dipicu oleh tiga penyakit sosial utama, yakni amnesia sejarah, materialisme (hubbuddunya), serta sikap diam ulama terhadap kezaliman.

Baca Juga:  Laga Panas Persib Kontra Persija, Ini Harapan Luis Milla Terhadap Bobotoh

“Ketiga hal ini menjadi pelajaran penting bagi kita agar tidak terulang dalam kehidupan berbangsa saat ini,” kata Maran.

Memasuki bagian kedua, acara dipimpin oleh Ketua Dewan Syura IJABI, K.H. Miftah Fauzi Rakhmat, melalui pertunjukan *Mystical Art Performance*. Dalam narasinya, ia mengangkat keteladanan Rasulullah dan Ahlulbait dalam membangun empati sosial, termasuk kepedulian terhadap fakir miskin dan anak yatim.


K.H. Miftah Fauzi Rakhmat menyampaikan refleksi budaya dalam peringatan Asyura 1448 H di Bandung, mengajak jamaah menghidupkan nilai empati, pengorbanan, dan kemanusiaan. (Foto: potensinetwork.com/Istimewa)

Selain itu, peserta juga diajak merenungkan kondisi kemanusiaan global, termasuk penderitaan rakyat Palestina, yang disebut sebagai refleksi tragedi kemanusiaan masa kini.

Acara kemudian ditutup dengan penayangan rekaman suara Allahyarham Dr. K.H. Jalaluddin Rakhmat yang menguraikan nilai-nilai pengorbanan, kesabaran, dan keteguhan dalam peristiwa Karbala. Rangkaian kegiatan diakhiri dengan doa ziarah yang dipimpin Habib Abdullah serta silaturahmi antarjamaah.

Baca Juga:  Terdampak Rawan Bajir, Puskesmas Melong Tengah Dibangun Ulang

Melalui kegiatan ini, IJABI berharap nilai-nilai Asyura dapat terus hidup dalam kehidupan masyarakat, sebagai landasan untuk memperkuat persatuan, menumbuhkan empati, serta menjaga kemanusiaan di tengah dinamika zaman. (Aprianto/Tim)